Assalamu'alaikum warohmatullaahiwabarokaatuh
Dulu sewaktu saya masih kelas 3 atau 4 SD, pernah suatu hari saya mempunyai ide untuk bikin surat yang saya tujukan ke (yang saya anggap) sahabat. Tetangga yang juga kakak kelas saya, Kak Lia. Waktu itu Kak Lia ini ceritanya mau pulang ke Aceh. Gak lama sebenarnya, mungkin sekitar 1 mingguan, saya lupa. Tapi buat saya yang masih SD, itu lama. Satu mingguan itu lumayan bikin saya kecil kehilangan teman bermain, sedih. Sampai akhirnya saya bikinlah surat cinta untuk Kak Lia. Inti surat cinta saya itu adalah bahwa saya cemburu, cemburu kalau Kak Lia lebih dekat dengan teman main kami yang lain. Lalu apa yang terjadi sepulang Kak Lia dari Aceh? Saya berjaga jarak, beberapa hari sampai Alhamdulillah semua kembali normal. Aneh, terkesan jahat tapi buat saya itu surat pernyataan cinta saya ke Kak Lia. Bukan cemburu yang mungkin ingin saya ungkapkan tapi maksud kalau saya sayanggg banget sama Kak Lia, kalau saya gak mau kehilangan sahabat seperti dia, kalau saya bakalan gak kuat kalau Kak Lia tiba-tiba gak mau lagi temenan sama saya. Gitu, hehehe…
Beranjak sedikit remaja, saya
pernah refleks menepis sambil meng”heh” dengan intonasi di luar kebiasaan saya
ke teman yang bisa dibilang paling dekat. Kenapa? Karena sebelumnya, saya merasa
ada kedekatan yang tidak biasa yang saya tangkap dari dia dengan teman lumayan
dekat saya yang lain (bingung ya?). Kedua teman yang saya maksud ini perempuan
loh, sama seperti saya hehehe…
Lebih remaja lagi, saya juga
pernah kalap karena merasa teman duduk terdekat saya di kelas telah
mengkhianati saya. Ketika kami pernah saling berlontaran bahwa kami ternyata
sama-sama makhluk pencemburu, bahwa nanti ketika tur kami harus bersama-sama,
justru dibuktikan dengan sebaliknya. Yang ini tidak perlu saya lanjutkan karena
bikin trauma hehehe…
Kalau yang ini teman yang saya anggap sahabat yang kayaknya lebih tua setahun atau 2 tahun, saya lupa. Kok bisa lupa? Karena kita dari pertama kenal sampai gak lagi berkabar cukup singkat. Tapi luar biasanya justru di situ tertinggal kenangan yang indah. Waktu itu kita sama-sama membaur menjadi satu dalam persiapan menjelang SPMB. Ya, setelah pengumuman keluar, beliau gak ada kabar. Ditengokin ke kos kakaknya juga belum berjodoh. Tapi, gak papa. Namanya Mbak Ani. Baik banget.
Dan banyak lagi sahabat yang datang silih berganti dengan berbagai simfoni. Ada yang masih di sini tapi tak sedikit yang memilih pergi...
Hingga di waktu selanjutnya, dalam kondisi yang sudah berbeda, saya berdoa. Saya meminta ke Allah agar ngasih saya paling gak 1 aja sahabat yang benar-benar paket lengkap. Yang bisa nerima saya, ngertiin saya, yang karakternya 11 12 sama saya.
Hingga di waktu selanjutnya, dalam kondisi yang sudah berbeda, saya berdoa. Saya meminta ke Allah agar ngasih saya paling gak 1 aja sahabat yang benar-benar paket lengkap. Yang bisa nerima saya, ngertiin saya, yang karakternya 11 12 sama saya.
Lalu, apakah doa saya terkabul?
Alhamdulillah iya. Siapa? Ada.
Sekarang, keanehan sifat saya itu
kambuh lagi. Egois, saya akui. Dia, yang saya anggap sahabat, dapat kesempatan
traveling (sebut saja begitu) untuk waktu yang saya juga gak tahu. Menggalaukan
gilak ternyata ditinggalin dia (lebay lagi). Awalnya marah (ke diri sendiri sih maksudnya)
tapi jatuh-jatuhnya yang kena sahabat saya ini juga. Menurut saya sih, sikap
sms-sms saya menjelang dan mungkin sampai saat ini masih terkesan dingin. Seperti
cerita saya tentang Kak Lia, ke dia yang ini pun sikap
saya gak jauh beda. Semacam saya menjaga jarak. Kenapa? Saya gak tahan dengan
rasa cinta yang ternyata cukup banyak untuk dia (ahayyy, jebret lebay lagi dan lagi!). Dengan
kami mengurangi intesitas komunikasi, menurut pikiran saya yang lagi kalut,
akan menjadi lebih baik setidaknyan untuk saya (tu kan, egois). Dan tadi, akhirnya
saya gak tahan lagi untuk berkabar. Ajaibnya, menjelang saya mempersiapkan
kata-kata sms untuk sahabat yang ini justru apa yang terjadi? Tanda pesan masuk berbunyi
lebih dulu. Iya, sahabat yang 75% menuhin pikiran saya yang sms. Luar biasa memang kekuatan pikiran ._.
Kabut biru dalam hatiku perlahan
memudar
Kala surya bersinar kembali
Damainya cahaya menyulam hati yang terluka
Tanyakan pada bulan dan bintang akankah sembunyi
Walau buih ombak berlabuh tanpa senyummu
namun biru samudera penawar rindu
Bagai dewi turun ke bumi kehadiranmu
Ketulusan cintamu pada diriku
Damai yang menjelma di ruang hati yang terbentang
Dan hanya padamu ku nyanyikan terimakasihku
Bagai hujan turun ke bumi arti cintamu
sirami kehidupan dengan kasihmu
Walau kau tak slalu di sini dalam hidupku
namun cinta sucimu di dalam kalbu
Bagai dewi turun ke bumi kehadiranmu
Kau lahirkan cintamu dalam diriku
-andien/kinasih-
Kala surya bersinar kembali
Damainya cahaya menyulam hati yang terluka
Tanyakan pada bulan dan bintang akankah sembunyi
Walau buih ombak berlabuh tanpa senyummu
namun biru samudera penawar rindu
Bagai dewi turun ke bumi kehadiranmu
Ketulusan cintamu pada diriku
Damai yang menjelma di ruang hati yang terbentang
Dan hanya padamu ku nyanyikan terimakasihku
Bagai hujan turun ke bumi arti cintamu
sirami kehidupan dengan kasihmu
Walau kau tak slalu di sini dalam hidupku
namun cinta sucimu di dalam kalbu
Bagai dewi turun ke bumi kehadiranmu
Kau lahirkan cintamu dalam diriku
-andien/kinasih-
Please, tulisan ini cuma buat konsumsi blog aja. Saya mellow tapi jangan dibawa ke dunia nyata. Boleh tapi cukup dalam nurani saja. Oh ya, semua dalam tulisan ini dibuat dari kacamata saya aja. Seperti permintaan saya agar dapat sahabat yang 11 12 dengan saya, bukan berarti karakter kami sedekat itu samanya. Karena dia jauh di atas saya. Artinya? Ya, dia jauh jauh jauh lebih baik (diteriakin temen-temen sekampung, bunyinya "yaeyalaaah")
Super love ya,
Dinda
Wassalamu'alaikum warohmatullaahiwabarokaatuh
No comments:
Post a Comment
Terimakasih :)