Saturday, March 15, 2014

Kaset vs High Heels

Koleksi Kaset Saya vs Geek in High Heels

Alhamdulillah... 14 Januari kemarin Geek in High Heels akhirnya ada di tangan saya juga. Saya pengen banget punya Geek ini High Heels karena saya udah jatuh cinta duluan sama penulisnya, Mbak Octaviani Nurhasanah. Setelah baca buku terbitan Stiletto Book ini, jatuh cinta saya tentu ke pemeran utamanya. Yeah, the geek Athaya. 

Athaya, banyak yang ada di dia yang saya ingin punya juga. Seperti, pilihan menggeluti profesi freelance. Ketika ditanya Tante Rina, "Kenapa gak kerja kantoran aja sih? Kan sayang kamu uda kuliah mahal-mahal....". Si geek Athaya ini jawab, "Saya lebih suka bekerja di rumah, Tante. Gak cocok kerja kantoran.". Dan jawaban Athaya tersebut adalah bagian yang saya pengen banget bisa ucapkan tapi saya belum ada di posisi seberani itu *curhat*. Athaya kerja gak terikat dengan jam kantor. Dia punya waktu kerja yang fleksibel yang bisa dia sesuaikan dengan klien. Kenapa dia bisa? Karena dia punya keahlian. Keahlian yang pasti mahal, dari segi finance apalagi kepuasan. Kedua, dari penghasilan yang dimiliki, Athaya bisa membeli (saya rasa) apapun yang disuka. Karena Athaya tergila-gila dengan high heels, Athaya bisa beli heels apapun yang di inginkan. Ketiga, akhirnya Athaya punya cowok yang tulus menawarkan hatinya. Bahkan, cowok itu langsung 2. Kalau Athaya milih Kelana, saya mau banget gantiin dia untuk bersanding di pelaminan dengan Ibra XD

Kesamaan saya dengan Athaya yang kali ini baru bisa saya miliki (mungkin) adalah "kegilaan". Athaya gila dengan heels, sementara saya gila dengan kaset. Gak banyak sih jumlahnya tapi diantara benda yang saya miliki, kaset jadi satu-satunya yang dengan sadar saya impikan dan berani saya wujudkan. Walau ini kaset koleksi lama, kalau sekarang kaset masih diproduksi mungkin saya masih usaha membeli. CD? Dari segi harga, bukan kesenangan lagi yang saya utamakan tapi pertimbangan kalau masih banyak yang bisa saya manfaatkan dengan uang seharga CD. Atau saat ini saya belum cukup uang untuk membeli CD? Mungkin juga. Kalau sudah perhitungan begini, mungkin saya masuk kategori bukan geek lagi yaaa ._.

Kalau fisiknya yang gak lagi saya koleksi tapi percayalah, lirik dan alunan melodi banyak lagu kesukaan masih saya tulis. Di sini, di dalam hati ini hihihi...

Double Triple Artist vs Geek in High Heels

Dari koleksi yang ada, awal banget saya membeli kaset yaitu kasetnya Sherina. Waktu itu lagi rame-ramenya Film Petualangan Sherina. Karena kehabisan tiket nonton dan agak jauh untuk balik lagi ke bioskop sementara lokasi bioskop di Surabaya dan rumah saya masih di Kamal Madura, akhirnya saya minta dibeliin aja kaset soundtracknya. Lagunya enak-enak. Liriknya juga banyak ngajarin kebaikan untuk saya pribadi yang masih kelas 5 SD waktu itu. Setelah punya kaset Sherina inilah, saya mulai menyisihkan uang untuk membeli kaset yang saya suka (tapi kadang juga suka nodong ke ayah). Waktu itu harga kaset rata-rata sekitar Rp. 19.000, bahkan album Petualangan Sherina ini Rp. 16.000.

Masih banyak lagi pengalaman saya dengan kaset-kaset ini. Dari yang kalo beli nitipnya ke kakak yang SMAnya di Surabaya, tempat beli kaset terjauh di Disctara Mall Kelapa Gading, kebanggaan saya dengan kaset yang terlabel Lunas PPN, dll. Mungkin nanti saya ceritakan di postingan lain.

Akhirnya... ini kegilaanku, apa kegilaanmu? :D

 OST Petualangan Sherina vs Geek in High Heels

Blue and The Corrs vs Geek in High Heels

OST At the Dolphin Bay vs Geek in High Heels

Wednesday, March 5, 2014

Gowes

Assalamu'alaikum warohmatullaahiwabarokaatuh

Semangat pagiiiiiii... :D

Cus aja, kembali ke tema #latepost lagi kali ini (sambil melatih kemampuan bercerita dan menulis heheee). Ini cerita saya tentang gowes. Gowes dengan jarak yang lumayan lebih jauh dari yang sebelumnya :D 

Hari Minggu pertama di 2014, 5 Januari (#latepost banget yaw?). Saya, Bila dan abi pagi itu bersepeda. Saya pribadi inginnya bersepeda di sekitaran rumah aja, gak mau jauh-jauh, takut dengan ramainya kendaraan di jalan raya. Tapi, ayah saya, sebagai pemandu rombongan "the virgin" yang juga pemimpin barisan malah terus saja mengayuh sepeda ke lokasi yang lumayan jauh dari rumah. Taman Bungkul. Lokasi yang menjadi area car free day, yang kayaknya belum pernah samsek saya datangi ._.

Lama gak mengayuh sepeda ternyata rasanya lumayan berat yaaa kaki. Betis terasa jadi semakin mengembang. Nafas juga uda yang cepet banget ngos-ngosannya, huh huh huh. Tapi ada fakta terupdate yang bisa saya rasakan saat itu. Sedikittt demi sedikittt saya menaikkan tingkat keberanian saya mengayuh sepeda di area yang lebih rame dengan kendaraan (walo masih pagi, masih lebih sepi dibanding siang atau malem). Biasanya, parno bingittt cinnn. Waktu gowes ini lumayanlah ada perbaikan (berarti harus banyak latihan tuh, Din).


Selanjutnya, Alhamdulillah... bisa gowes lagi bertiga pas libur Maulid Nabi tanggal 14 Januari. Rutenya sekitaran daerah Kusuma Bangsa. Gak jauh-jauh banget soalnya bingung mau kemana, gak ada car free day sih hari Selasa.

Sayangnya sepeda cuma 3 jadi umi gak bisa ikutan. Sepeda yang saya pake aja juga uda gak gitu bagus. Sampai dari balai kota ke rumah aja bagian kakinya yang sebelah kanan copot jadi gak bisa dipake, otomatis mesti jalan sambil megangin sepeda. Oh yeah, produksi keringet jadi lebih banyak lagi :D

bukti kami gowes bertiga hihih

Sampai sekarang belum ada agenda gowes lagi. Sabtu gak ada car free day, kurang seru. Minggu, si Bila ada jadwal Tapak Suci di sekolah. Begitulah~


Super love,
Me

Wassalamu'alaikum warohmatullaahiwabarokaatuh